Kamis, 04 April 2013

Makalah tentang Tokoh Sufi HAMKA


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Ditengah situasi masyarakat yang mengarah pada keterpurukan moral. Akhlak tasawuf merupakan solusi untuk kembali mendekatkan diri kepada tuhan. Yang mana
akhlak tasawuf merupakan akhlak terhadap tuhan dengan membersihkan jiwa serta pengamalan secara benar.
Pengkajian tasawuf terhadap tokoh sufi dimaksudkan untuk mengetahui lebih lanjut dan secara sprsifik ajaran ajaran tasawuf yang di bawa oleh para sufi sehingga dapat diambil kesimpulan maupun perbandingan.
Diantaranya HAMKA, beliau seorang ulama besar, penulis dan muballig. HAMKA membawa pemikiran tasawuf yang modern yaitu bukanlah tasawuf yang meninggalkan keduniaan melainkan tasawuf merupakan alat untuk beribadah kepada Allah.

B.     Rumusan Masalah
Sebagai landasan penulisan makalah ini, berikut uraian rumusan masalah dari makalah:
1.      Siapa HAMKA itu?
2.      Bagaimana Pemikiran Tasawuf HAMKA?
3.      Bagaimana Corak Pemikiran HAMKA?
4.      Apa saja Karya karya HAMKA?



BAB II
PEMBAHASAN
HAJI ABDUL MALIK KARIM AMRULLAH (HAMKA)

A.    Riwayat Hidup HAMKA
HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) di lahirkan di tanah sirah, sungai batang di tepi danau maninjau, tepatnya pada tanggal 13 Muharam 1362H, bertepatan dengan 16 febuari 1908. Ayahnya adalah Abdul Karim Amrullah. Ayah Hamka termasuk keturunan Abdul Arief, gelar tuanku Pauh Pariaman atau Tuanku Nan Tuo, salah seorang pahlawan paderi. Tuanku Nan Tuo adalah salah seorang ulama yang memainkan peranan penting dalam kebangkitan kembali pembaharuan di minangkabau, dan sebagai guru utama jalal Ad-din. Kondisi kesosialan keagamaan pada masa Hamka menuntut adanya pemikiran pemikiran baru yang membawa ummat pada ajaran Al-Qur’an dan hadits yang lurus, yang tidak bercampur dengan adat istiadat. Hamka mengawali pendidikannya dengan belajar membaca Al-qur’an di rumah orang tuanya pada malam hari di umur ke 6 tahun. Pada usia 7  tahun Hamka di sekolahkan ayahnya di sekolah desa pada pagi hari. Kemudian pada tahun ke 1916, Jainudin Labai El-yunusi mendirikan sekolah diniyah petang hari di pasar Usang padang panjang, lalu Hamka pun sekolah disana pada sore hari. Dan pada tahun 1918  Hamka masuk ke Thawalib school (madrasah tempat ayah Hamka memberi pengajaran agama). Hamka tidak sempat memperoleh pendidikan tinggi baik sekuler ataupun keagamaan. Ia hanya masuk sekolah desa selama 3 tahun, dan kira kira selama 3 tahun pula di sekolah sekolah agama. Tetapi Hamka berbakat dalam bidang bahasa arab. Hamka lahir dari lima generasi ulama yang mereka kuasai adalah bahasa arab.[1]
Sejak berusia sangat muda HAMKA sudah dikenal sebagai seorang kelana. Ayahnya bahkan memberinya nama “sibujang jauh”. Pada tahun 1924 pada usia 16 tahun ia pergi ke jawa untuk mempelajari tentang gerakan islam modern. Pada Juli 1925 ia mendirikan tablig muhamadiyah di rumah ayahnya di Gatangan, Padang Panjang. Dan sejak itulah ia berkiprah di Muhamadiyah setelah berkenalan dengan tokoh muhamadiyah di pekalongan. Pada februari 1927 ia berangkat ke makkah untuk menunaikan ibadah haji dan bermukim disana sekitar 6 bulan. Selama di mekkah beliau bekerja disebuah percetakan dan kemudian ia pulang ke medan dan menjadi guru agama pada sebuah perkebunan selama beberapa bulan dan kembali ke kampung halamannya pada tahun 1927.[2]
Tahun 1928 HAMKA menjadi peserta muktamar Muhamadiyah di Solo.Sejak saat itu ia selalu hadir dalam muktamar Muhmadiyah hingga akhir hayatnya sejak saat itu hamka memangku beberapa jabatan, mulai dari ketua bagian taman pustaka, ketua tablig, hingga menjadi ketua Muhamadiyah cabang Padang Panjang. Pada tahun 1930 ia mendirikan Muhamadiyah di Bengkalis. Pada 1931 Hamka ke makasar untuk menjadi mubalig muhamadiyah dalam rangka menggerakkan semangat untuk menyambut muktamar muhamadiyah ke 21 (mei 1932) di makasar. Pada 1934 ia di angkat  menjadi Majelis Konsul Muhamadiyah Sumatra Tengah. Pada 22 Januari 1936 ia pindah ke medan dan menggawangi gerakan Muhamadiyah di Sumatra Timur. Ia juga memimpin majalah Pedoman Masyarakat. Pada 1942 ia terpiih menjadi pemimpin Muhamadiyah Sumatra Timur dan pada tahun 1945 ia pindah ke sumatra barat dan terpilih menjadi pimpinan muhamadiyah Sumatra barat pada 1946-1949. Pada muktamar muhamadiyah ke 32 di purwokerto (1953), hamka terpilih menjadi anggota pimpinan pusat Muhamadiyah dan semenjak itu ia selalu dipilih dalam muktamar, tetapi pada 1971 ia memohon izin untuk tidak di pilih karna uzur, tetapi ia diangkat menjadi penasihat pimpinan pusat Muhamadiyah sampai akhir hayatnya.[3]
Sejak 1949 HAMKA pindah ke jakarta setelah tercapainya persetujuan Roem Royen. Dan pada tahun 1950 ia menjabat pegawai negeri golongan F di kementrian agama yuang di pimpin KH. Abdul Wahid hasyim. Saat itu ia juga  ditugaskan memberi kuliah di beberapa perguruan tinggi islam.[4]

B.     Pemikiran HAMKA Tentang Tasawuf
Pemikiran HAMKA lebih banyak tercurah pada soal soal iman, akhlak dan aspek aspek sosial, diluar lingkup pengertian tradiosional tentang muamalah. Menurut HAMKA hakikat tasawuf adalah usaha yang bertujuan untuk memperbaiki budi dan membersihkan batin. Artinya tasawuf adalah alat untuk membentengi dari kemungkinan seseorang melakukan keburukan, intinya berzuhud sebagaimana teladan hidup yang dicontohkan Rosulallah lewat sunnah yang sahih. Tasawuf yang di tawarkan HAMKA adalah tasawuf modern atau tasawuf positif berdasarkan tauhid. Jalan tasawufnya melalui sikap zuhudyang di laksanakan dalam ibadah resmi sikap zuhud, yang tidak perlu menjauhi kehidupan normal. Penghayatan tasawufnya berupa pengalaman takwa yang inamis bukan ingin bersatu dengan tuhan. Dan refleksinya berupa kenampakan kepekaan sosial.[5]
Di antara pemikiran HAMKA yaitu pendidikan, menurut HAMKA pendidikan adalah sarana untuk mendidik watak pribadi. Manusia tidak hanya untuk mengenal apa yang di maksud dengan baik dan buruk tapi juga beribadah kepada Allah dan berguna untuk sesama dan lingkungan. Karena itu sistem pendidikan modern harus di imbangi dengan pendidikan agama.[6] Tasawuf modern tersebut sangat membekas pada warga muhamadiyah dan gerakan modernis lainnya.[7]


C.    Corak Pemikiran Tasawuf HAMKA
Dilihat secara sepintas, corak pemikiran HAMKA mengacu kepada tasawuf falsafi. Karena konsepsi tentang tuhan merupakan perkembangan lebih lanjut dari pemikiran para ahli kalam dan filsuf. HAMKA pun mengaku sendiri dalam Tasawuf Modernnya itu, bahwa itu bukan ciptaan otaknya karena beliau waktu itu masih mudadan sedikit pengetahuannya. Tetapi di lihat dari buku karangan ahli filsafat dan tasawuf islam di bandingkan dengan alQuran dan hadist. Corak pemikiran HAMKA belum ada kepastian sebagaiman atasawufnya para sufi lain. HAMKA tidak memiliki pengalaman kesufian. Hanya HAMKA mereformulasikan konsep ilmu tasawuf dengan caranya sendiri karena tidak ingin melihat ekonomi islam lemah, maka beliau merumuskan tasawuf modern yang sama sekali tidak meningggalkan keduniaan. Dan tasawuf HAMKA merupakan solusi agar umat islam tidak menyalahartikan zuhud yang harus meninggalkan dunia.[8]











D.    Karya-karya Tulis HAMKA
Pemikiran pemikiran HAMKA di berbagai bidang dapat di kaji dan di ketahui melalui berbagai karya karyanya, diantara karya karya tersebut yang menjadi objek penelitian, seperti:
Tasawuf modern: Buku ini adalah kumpulan artikel yang di muat dalam Pedoman masyarakat 1993-1998, karena tuntutan masyarakat kemudian artikel tersebut di terbitkan. Lembaga Budi: Terdiri dari X1 bab, Ditulis pada tahun 1939. Falsafah Hidup: Diterbitkan tahun 1949. Lembaga Hidu:. Diterbitkan pertama kali di medan pada tahun 1941. Pelajaran Agama Islam: 1956. Tafsir Alazhar juz 1-XXX: Karya ini sangat monumental, ditulis pada tahun 1962. Ayahku; riwayat hidup Dr.Haji Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di sumatera:  Dicetak pada tahun 1950. Kenang Kenangan Hidup: Buku tentang kehidupan Hamka dari kecil hingga dewasa, Diterbitkan pada tahun 1951. Islam dan Alat Minagkabau. Sejarah Umat Islam:  Ditulis tahun 1951. Studi islam: Buku ini awalnya adalah 5 artikel yang telah ditulis dan dimuat di panji Masyarakat, dicetak tahun 1982. Kedudukan perempuan dalam islam: Diterbitkan tahun 1973. Demikian banyak karya karya tulis HAMKA. Selain di atas terdapat banyak lagi karya karyanya. Melalui karya karyanya HAMKA mampu menawarkan ide ide yang begitu menarik. Tetapi HAMKA jarang sekali mencantumkan rujukan rujukan dari pandangan pandangannya. Tetapi bukan berarti mengurangi kredibilitasnya sebagai seorang intlektual.[9]






BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Pertama, HAMKA adalah ulama, aktifis, politisi, jurnalis, editor dan sastrawan. Beliau tidak berpendidikan tinggi tetapi ayahnya adalah seorang penulis dalam bahasa Arab dan Melayu, maka Beliau pandai dalam Bahasa Arab.
Kedua, beliau memandang tasawuf tidak harus meninggalkan kehidupan dunia. Tapi tasawuf modernnya menawarkan tasawuf sebagai alat untuk mendekatkan diri kepada Allah.

















DAFTAR PUSTAKA
Solihin, M., Prof., Dr., M.Ag, Ilmu Tasawuf, Bandung: Pustaka Setia, 2008.
Nizar, samsul, Memperbincangkan Dinamika Intlektual dan Pemikiran Hamka       tentang Pendidikan Islam, Jakarta: kencana, 2008.
Mohammad, herry, Tokoh tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20, Jakarta: Gema insani, 2006.
Departemen Agama RI, Ensiklopedi Islam, Jakarta: Anda Utama, 1993.
Armando, nina m, Ensiklopedi islam, Jakarta: Ichtiar baru van hoeve, 2005.
http://amir14.wordpress.com/tasawuf-hamka/.




[1] Solihin,Ilmu Tasawuf ,(Bandung,Pustaka Setia,2008). 269-270.
[2] Nina Armando,Ensiklopedi Islam,(Jakarta:Ikhtiar baru,2005) 293.
[3] Ibid.293-294
[4]Ibid.294
[5] Solihin,ilmu tasawuf.(Jakarta:pustaka setia,2008)272-276.
[6] Harry Mohammad,Tokoh tokoh islam,(Jakarta:gema insani,2006) 64.
[7] Ensiklopedi islam,(Jakarta:Anda Utama,1993)345.
[9] Samsul Nizar,Memperbincangkan dinamika intlektual,(Jakarta: kencana, 2008)46-56.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar